Pada sebuah garis masa, aku melambungkan harapan,
meminta hadirnya sebuah langit biru di hari esok.
dirayu tawa bahagia oleh senandika mimpi
Sampai hadirmu adalah sebuah jawaban.

Dengan pesona yang indah, melirikmu teramat istimewa
Kau adalah goresan indah tangan Yang Kuasa
Keseluruhanmu adalah kesempurnaan,
Kesempurnaanmu mengisi keseluruhan diriku.

Hingga kau mengkhianati sang garis masa,
Dengan kelabu pekat, kau datang padaku
Berselimut hembusan angin dingin,
Dan tetesan air mata yang menderai.
gemuruhmu menolakku, menyentakku untuk pergi.
menggores sebuah luka akan redupnya hari.

Aku memang inginkan langit selalu cerah,
Tapi aku juga ingin menemani langit ketika kelabu,
Karena ketika semua badai ini selesai,
jawaban doaku akan segera datang
Keajaiban pesona pelangi pada langit biru...


Kupikir, dia mengerti perasaanku. Kupikir, dia benar-benar memahamiku. Ternyata tidak. Aku sedang membutuhkan seorang teman di saat seperti ini. Kadangkala aku hanya ingin didengarkan. Aku salah. Salah berharap padanya. Dia sebenarnya tak pernah benar-benar peduli. Aku tak yakin dia selalu mendoakanku.
Sayangnya aku ini bodoh, entah mengapa aku sulit melepaskannya. Mungkin aku salah, membandingkan sikapnya sekarang dengan sikapnya pada orang lain. Hai kalian, apa salah ya. Dulu dia pernah selingkuh dengan orang lain, sampai berkorban pada malam yang dingin demi bertemu perempuan itu dan mengajaknya makan dan mengobrol. Aku cuma minta itu, tapi seakan cerita apapun yang kuberitahu kepadanya, seakan ga bermakna untuknya. Mengajaknya bertemu juga susah sekarang ini. Dia sibuk ya? mungkin tidur, game dan lainnya memang lebih berarti untuknya.
Aku mungkin perempuan yang kurang perhatian. Aku pernah cerita kepada orang lain, karena aku merasa ada yang lebih paham perasaanku. Dia memintaku untuk berubah, tapi tak pernah berada di sampingku untuk membantuku saat aku jatuh. Salahku terlalu berharap kepada orang sepertinya, orang yang bahkan memotivasi dirinya pun harus dari luar. Dia sama saja.
Katanya, aku terlalu terikat dengan papaku, papaku terlalu mengendalikanku. Kupikir udah cukup semua, dia telah kehilangan aku saat ini. Katanya dia membutuhkanku, hai kalian, aku tak pernah merasakannya. Aku tak pernah merasa dibutuhkan olehnya, aku merasa dia adalah orang asing untukku. Aku seakan ga mengenalinya. Dia memintaku cerita, dia mengatakan aku dikendalikan papaku, dia memintaku berubah, tapi dia lupakan satu hal yang aku harapkan darinya  ketika aku cerita. Aku memintanya menenangkanku, dia bilang percuma, dia pikir dia udah lakukan yang terbaik untuk menenangkanku selama ini. Andai saja dia tau, ketika dia ceritakan masalahnya padaku, cara terbaikku adalah mendoakannya. Aku cuma ingin itu, tapi kurasa aku memang terlalu berharap lebih. Dia sudah sangat sempurna sekarang. Sangat sempurna.


Maafkan aku, kau selalu meruntuhkan kepercayaan yang kubangun. Tidak apa, kini aku paham, ketika cerita, air mata dan usahaku tak berarti lagi untukmu, aku akan berjalan sendiri mulai sekarang. Aku akan melupakanmu secara perlahan, aku akan melepaskanmu perlahan. Aku akan usahakan yang terbaik untuk diriku sendiri. Maaf.